Selasa, 29 Oktober 2013

Jakarta - Yogyakarta 26 - 27 Oktober 2013


AA 7552 siap menuju Yogya

Euforia berburu tiket promo masih saya rasakan meski tidak seheboh tahun lalu. Perjalanan Jakarta - Yogyakarta (Yogya) pulang pergi (pp) kali ini juga merupakan hasil dari perburuan tiket promo pada 14 Janauri 2013. Saya mendapatkan  tiket promo Air Asia (AA) Jakarta-Yogya pp seharga Rp. 280.000 untuk kepergian sepuluh bulan kemudian. 

Penumpang memasuki AA QZ 7552
Berangkat 26 Oktober 2013 dengan AA QZ 7552 pukul 10.30. Kali ini mendapatkan seat 21D. Waktu ideal bagi Saya karena tidak terlalu pagi. Di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta (Soetta) sempat sarapan di De Green Executive Loung memanfaatkan fasilitas kartu kredit Danamon. Untuk kedua kalinya saya tertipu oleh pengumuman yang disampaikan di internal tempat makan ini. Diumumkan bahwa penumpang diminta untuk segera naik ke pesawat. Jadilah saya terburu-buru berlari melesat ke ruang tunggu yang jaraknya lumayan jauh. Sampai di ruang tunggu ternyata masih diminta menunggu alias belum ada instruksi boarding. Waktu tertipu pertama kalinya saya coba tanyakan ke petugas AA adanya perbedaan informasi di tempat makan dengan di ruang tunggu. Ternyata menurut petugas hal itu memang disengaja agar penumpang segera berkumpul di ruang tunggu. Ah..., lain kali berarti saya tak perlu tergopoh-gopoh jika pada saat makan terdengar pengumuman untuk naik ke pesawat. Pada kenyataannya pesawat juga mengalami keterlambatan sekitar 15 menit dari jadwal. Pesawat yang dipakai adalah pesawat yang baru saja tiba di Bandara Soetta dari Denpasar.

AA QZ 7552 tiba di Yogya
Cuaca cukup benderang sehingga perjalanan terasa nyaman. Tiba di Yogya pukul 11.50 dalam cuaca terik menyengat. Dalam perjalanan mampir beli tiga porsi makan siang Kupat Tahu Pak Budi di depan Sari Husada, per porsi harganya Rp. 8.000,-. Sorenya beli jamu tradisional langganan di samping pondok pesantren Al-Munawir Krapyak. Beras kencur empat gelas (@Rp. 4.000,-) dan Kunyit Asem empat gelas juga (@Rp. 3.500).

Bandara Yogya nan Sibuk

Hiruk Pikuk penumpang di Bandara Yogya
Cukup sehari di Yogya. Hari berikutnya (Minggu, 27 Oktober 2013) kembali ke Jakarta dengan menggunakan  AA QZ 7551, penerbangan pukul 16.10. Satu jam sebelumnya saya sudah tiba di Bandara Yogya. Luar biasa padatnya bandara ini. Penumpang hiruk pikuk dengan bawaan bagasi besar, serasa hendak pergi ke luar negeri dalam waktu lama. Rupanya sebagian besar bagasi berkardus-kardus itu berupa oleh-oleh makanan dari Yogya. Tak dapat dipungkiri wisata Yogya memang mendongkrak bisnis oleh-oleh ini.

AA QZ 7551 siap meninggalkan Yogya

Perjalanan balik ke Jakata kali ini saya mendapatkan seat 21F (jendela). Penerbangan meleset 20 menit dari jadwal. 


AA QZ 7551 tiba di Bandara Soetta

.

Rabu, 25 September 2013

Jakarta - Singapura pp 14-15 September 2013


Berburu tiket promo Air Asia (AA)pada 19 September 2012 tengah malam hanya membuahkan tiket satu kali jalan Jakarta-Singapura seharga Rp. 115.000 untuk penerbangan 14 September 2013 dengan AA QZ 8266. Perjuangan mendapatkan tiket promo balik dari Singapura tak membuahkan hasil. Akhirnya beberapa pekan kedepan mencoba mencari alternatif penerbangan lain. Yang didapatkan kemudian, tepatnya 23 November 2012, adalah Lion Air seharga Rp. 515.300,- untuk penerbangan 15 September 2013 dengan JT 157. Urusan transprotasi selesai sudah.


AA QZ 8266 Siap Tinggalkan Jakarta Menuju Singapura


Boarding AA QZ 8266 14 September 2013 - Bandara Soetta


Hampir setahun kemudian, tiba saatnya merealisasikan hasil perburuan. Inilah kunjungan kedua saya sebagai backpacker (pelancong ransel) yang menginap di Singapore. Kunjungan pertamanya 12-14 April 2013. Ini sekaligus merupakan perjalanan ke Singapura yang pertama bagi saya dengan menggunakan AA. Pesawat berangkat tepat waktu pukul 14.05. Duduk di seat 11 A (window) memungkinkan saya merasa leluasa mengabadikan saat AA menyentuh landas pacu Bandara Changi.

AA 8266 landing position

AA 8266 mendekati Bandara Changi

AA 8266 di atas Bandara Changi

AA 8266 menyentuk landas pacu Bandara Changi


AA berhenti dengan sempurna


Kepergian kali ini benar-benar tak dibekali dengan refeshment informasi yang memadai mengenai tempat tujuan, utamanya keluar dari Bandara Changi. Yah, terlalu percaya diri setelah beberapa kali sowan ke negara singa ini. Tiba di Bandara Changi, begitu keluar dari pintu imigrasi, baru sadar bahwa sudah lupa mendarat di terminal mana dan stasiun MRT ada di sebelah mana. Beruntunglah papan petunjuk cukup jelas. Ingatan mulai terbangun kembali bahwa AA dan Lion Air ada di Terminal 1, sementara Stasiun MRT ada di Terminal 3 sehingga perlu naik Sky Train untuk menghubungkan keduanya.

Suasana Pintu Keluar Imigrasi Bandara Changi

Menanti Skytrain menuju Terminal 3 tempat Stasiun MRT

Begitu tiba di Stasiun MRT Changi, langsung top up Kartu EZ link sebesar SGD 10 (batas minimal pengisian). Dari stasiun ini saya turun di Stasiun Tanah Merah untuk beralih ke MRT jurusan Joo Koon. Tujuan pertama saya adalah penginapan. Kali ini saya menginap di Kallang River Backpackers (Jalan Ayer 8). Untuk singkatnya sebut saja penginapan ini Kallang. Saya telah memesan satu tempat tidur di 6 Bed Mixed Room dengan biaya semalam Rp. 112,428. Pemesanan saya lakukan 3 Juli 2013 melalui www.agoda.com. Lokasi penginapan ini ada di kawasan Geylang, di seberang Stasiun MRT Kallang.

Kallang di Jalan Ayer 8

Saat check in saya diminta deposit SGD 10 sebagai jaminan kunci locker yang nantinya akan dikembalikan saat check out. Sore itu saya istirahat sejenak melihat-lihat suasana penginapan. Duduk santai diteras, menatap pemandangan di depan berupa kereta MRT yang hilir mudik. Depan penginapan adalah tanah lapang sehingga lalu lintas MRT dapat terlihat dengan mudahnya.


Kallang: 6 Mixed Bed Room

Kamar Mandi Kallang, ada air panas

Penginapan menyediakan air minum (panas maupun dingin), teh celup, dan peralatan makan yang semuanya disediakan di teras. Sarapan juga tersedia gratis berupa roti selai. Secara umum, penginapan ini cukup layak untuk penginapan pelancong ransel individual. Harga dan fasilitas yang didapatkan cukup sebanding. Lokasinya benar-benar strategis di dekat Stasiun MRT Kallang.


Teras Kallang, menjadi semacam lobby
Setelah agak tenang beristirahat, malam itu sekitar pukul tujuh saya meluncur ke kawasan Bugis dengan menggunakan MRT. Ini merupakan kunjungan tak terencana, hanya sekedar mengisi waktu. Di kawasan Bugis saya juga hanya melihat-lihat sebentar suasana pusat perbelanjaan yang ada di situ. Cukup sekedar mengenali suasana dan mengingat-ingat tempatnya bagi saya sudah cukup karena saya tidak terlalu menikmati kegiatan belanja.

Imam Banana Leaf Restaurant - Lor 1 Geylang

Setiba kembali di penginapan, saya mampir makan malam. Kali ini pilihan jatuh pada Imam Banana Leaf Restauran yang lokasinya hanya berjarak selisih dua bangunan dari penginapan. Ini merupakan rumah makan India yang buka 24 jam, terletak di Lor 1 Geylang. Begitu dekatnya jarak dengan penginapan, maka menu yang telah tersaji dan kita bayar bisa kita bawa ke teras penginapan. Jadi untuk menikmati makannya kita tidak harus di dalam ruangan restoran yang bersangkutan. Malam itu saya menyantap nasi goreng seharga SGD 3,5.

Nasi Goreng SGD 3,5

Minggu (15 September 2013) pukul 06.30 saya meluncur ke Stasiun Kallang. Pagi itu tujuan saya adalah Garden by the Bay. Untuk ke tempat ini saya keluar dari Stasiun Bayfront. Sejenak saya mengamat-amati lobi hotel Marina Bay yang ada di seberang Garden by the Bay. 


Lobby Hotel Marina Bay
Lobby Hotel Marina Bay


Cuaca mendung pagi itu. Begitu saya hendak beranjak ke Garden by the Bay hujan deras mengguyur. Apa boleh buat, saya berteduh saja sambil sesekali mengambil gambar Garden by the Bay dari kejauhan.  

Garden by the Bay

Garden by the Bay

Garden by the Bay

Garden by the Bay
Garden by the Bay

Garden by the Bay
















Garden by the Bay
Hujan ternyata berlangsung tiada henti meski tak terlalu deras lagi. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Church Of Saints Peter and Paul yang hanya berjarak beberapa jengkal dari Stasiun Bras Basah. Berangkat dari Stasiun Byfront sekitar pukul delapan pagi dengan harapan bisa mengejar jadwal ibadah (misa) pukul 8.30. Sampai lokasi lima menit sebelum misa dimulai dalam kondisi gerimis. Saat akan mengambil lembar panduan baru sadar bahwa misa dalam bahasa Mandarin. Tak jadi soal, yang penting mengikuti ibadah meski tak bisa menangkap sama sekali maksudnya. 


Church Of Saints Peter and Paul
Church Of Saints Peter and Paul




Selesai ibadah, bergegas kembali ke penginapan Kallang, namun mampir sarapan terlebih dahulu. Kali ini pilihan jatuh di rumah makan Eating House yang terletak di Geylang Road pada ruas antara Lor 1 dan Lor 3. Ini semacam rumah makan Padang, seperti yang tertulis di papan namanya: “Authentic Nasi Padang – Best Mee Rebus in Singapore”. Dilihat dari beberapa tamu berjilbab, kelihatannya ini merupakan salah satu tempat makan makanan halal di kawasan Geylang. Beberapa orang yang habis berolah raga di Minggu pagi itu mampir menyantap mie rebus di tempat makan yang hanya buka pagi sampai siang hari ini. Menu sarapan yang saya pilih adalah nasi uduk seharga SGD 3. 


Eating House - Geylang Road

Nasi Uduk Eating House


Sarapan beres, kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak dan check out. Sambil menanti waktu check out, saya menyantap roti tawar selai yang merupakan paket sarapan yang disediakan oleh penginapan.

Masih banyak waktu untuk menanti penerbangan balik ke Jakarta yang dijadwalkan pukul 17.15. Saya pun meluncur ke Stasiun City Hall dengan harapan dari tempat ini akan berjalan-jalan menuju Merlion. Ternyata hujan deras kembali mengguyur Singapura di hari Minggu itu. Saya hanya bisa menikmati jalan di pusat perbelanjaan di sekitar stasiun. Setelah hujan agak reda, saya lihat bangunan gereja di dekat stasiun dan dari peta saya tahu itu Chatedral St. Andrew. Berlari-lari kecil saya menuju ke gereja ini. Saat masuk gereja dan mencoba melihat leaflet atau papan pengumuman jadwal ibadah, seorang ibu memberi tahu bahwa ini bukan gereja Katolik namun gereja Anglican.


Chatedral St. Andrew
Balik dari City Hall saya kembali ke kawasan Geylang dekat lokasi penginapan dan kembali turun di Stasiun Kallang. Tujuan saya adalah makan siang di kantin G5 Food House. Kantin ini terletak di kompleks parkiran apartemen di Sim Ave, namanya: Jalan Besar Town Council – Heart and Home. Ancar-ancarnya adalah halte bis Sim Ave B03. Letaknya di tepi rel MRT tak jauh dari Stasiun Kallang ke arah Stasiun Aljunied. Berbaur dengan pengunjung lain, di antaranya para sopir taxi, saya menyantap makan siang Pork Ribs Rice seharga SGD 3. Menu lain juga cukup bervariasi, baik halal maupun non-halal, dengan harga rata-rata SGD 4 per porsi. 


Balik dari City Hall saya kembali ke kawasan Geylang dekat lokasi penginapan dan kembali turun di Stasiun Kallang. Tujuan saya adalah makan siang di kantin G5 Food House. Kantin ini terletak di kompleks parkiran apartemen di Sim Ave, namanya: Jalan Besar Town Council – Heart and Home. Ancar-ancarnya adalah halte bis Sim Ave B03. Letaknya di tepi rel MRT tak jauh dari Stasiun Kallang ke arah Stasiun Aljunied. Berbaur dengan pengunjung lain, di antaranya para sopir taxi, saya menyantap makan siang Pork Ribs Rice seharga SGD 3. Menu lain juga cukup bervariasi, baik halal maupun non-halal, dengan harga rata-rata SGD 4 per porsi. 
G5 Food House - Sim Ave


Pork Ribs Rice

Akhirnya tibalah saat tuk kembali  ke Jakarta. Kali ini, Minggu (15 September 2013), Lion Air JT 157 menempatkan saya pada seat 9 A (jendela). Pesawat tinggal landas sepuluh menit terlambat dari jadwal seharusnya pukul 17.15. 


Lion Air JT 157 Singapura - Jakarta di Bandara Changi


Jumat, 30 Agustus 2013

Jakarta - Yogyakarta 24-25 Agustus 2013 : Mesjid Agung Mataram Kotagede


Boarding the aircraft AA QZ 7552
Seminggu setelah libur lebaran 2013, saya melakukan kunjungan singkat ke Yogyakarta ("Yogya"). Benar-benar luar biasa, sebuah perjalanan yang dirancang hampir setahun sebelumnya, tepatnya 17 September 2012 saat momen promo Air Asia ("AA"). Pada tanggal tersebut saya berhasil merebut satu tiket AA QZ 7552 di harga promo Rp. 58.900. Sayang, tiket balik ke Yogya tidak ada harga promo. Terpaksa cari tiket penerbangan lain yang akhirnya pada 24 Januari 2013 saya berhasil mendapatkan tiket Garuda Indonesia GA 0215 di harga promo Rp. 416.400 (sudah termasuk airport tax). Meski AA maupun GA sama-sama menyatakannya sebagai harga promo, nyata benar selisih harga antara keduanya, hampir tujuh kali lipat.

AA QZ 7552  siap tinggalkan Bandara Soetta
Meski libur lebaran telah berlalu, kepadatan di terminal 3 Bandara Soetta tetap saja terasakan. Saat itu ruang tunggu penuh dengan penumpang AA yang jadwal keberangkatannya berdekatan, yaitu ke Denpasar, Medan, dan Jakarta. Sejumlah penumpang bahkan tidak mendapatkan tempat duduk. 

Untuk keberangkatan ke Yogya kali ini saya mendapatkan tempat duduk nomor 20 F dengan jadwal keberangkatan pukul 10.30. Penumpang baru dipersilakan masuk pesawat pukul 10.30 dan tinggal landas pukul 11.10. Terjadi kelembatan sekitar empat puluh menit. 


Detik-detik Pendaratan di Yogya

Menjelang pendaratan di Yogya, dari kabin pesawat saya sempat mengabadikan beberapa spot seperti Stadion Mandala Krida dan jalan layang Janti. 

AA QZ 7552 melintas Stadion Mandala Krida Yogya 



Menatap Stadion Mandala Krida dari dalam kabin AA QZ 7552
AA QZ 7552 melintas Jalan Layang Janti Yogya
AA 7552 hampir menyentuh landasan Bandara Adisucipto


AA QZ 7552 touch down Adisucipto Airport
Sekitar pukul 12.10 pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Adicucipto Yogya.

Air Asia QZ 7552 tiba di Yogya

Air Asia QZ 7552 has just landed at Yogya
Kotagede dan sekitarnya

Kunjungan singkat kali ini saya fokuskan ke Kotagede, lebih khusus lagi ke Masjid Agung Mataram Kotagede ("Masjid Kotagede"). Perlu waktu ternyata untuk kunjungan pertama kali ke masjid yang berlokasi di Jalan Watu Gilang ini. Sesuai informasi yang saya peroleh, yang pertama harus saya temukan adalah Pasar Legi Kotagede. Ternyata sekian tahun yang lalu beberapa kali saya melewati pasar ini, hanya saja tidak terlalu memperhatikan. Pasar Legi ini rupanya terletak di Jalan Mondorakan. Untuk menuju ke sini kita bisa masuk dari Jalan Kemasan atau Jalan Pramuka. Masjid Kotagede terletak di sisi barat Pasar Legi ke arah selatan sekitar 500 meter. Waktu yang tepat dan nyaman untuk berkunjung sebaiknya setelah siang hari karena pada pagi hari jalan di depan pasar macet dan tempat parkir sekitar Pasar Legi penuh dengan kendaraan. Secara pribadi saya tidak menyarankan untuk membawa mobil jika akan berkunjung ke Masjid Kotagede mengingat sempitnya jalan. Kalaupun membawa mobil, silakan parkir di deretan toko kerajinan perak yang agak jauh dari Pasar Legi. Bagi yang menguasai wilayah Yogya, sepertinya ada akses yang tidak harus melewati Pasar Legi. 


Masjid Agung Mataram Kotagede



Kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede 
Kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede
Ada dua pintu masuk menuju kompleks Masjid Kotagede, yaitu dari sisi timur (yaitu pada jalan searah dengan sisi barat Pasar Legi, tidak jauh dari tempat produksi Coklat Monggo yang cukup tenar di Yogya) atau sisi utara. Jika kita naik motor, masuk saja dari sisi utara. Kita akan menyusuri sebuah gang kecil yang di kiri kanannya masih terdapat rumah-rumah kuno, termasuk joglo dan oemah UGM. Motor bisa kita parkir di halaman Masjid Kotagede, sementara kita bisa berjalan-jalan menyaksikan rumah-rumah kuno atau mengitari kompleks masjid.

Kawasan Kota tua Kotagede

Eksotisnya peninggala rumamh kuno di Kotagede
Toko Motor Vespa Second Kotagede

Dalam perjalanan di Kotagede, tak sengaja saya menemukan sebuah toko motor second yang khusus menjual kendaraan merek Vespa. Lokasinya tidak jauh Masjid Kotagede dan makam Hastarengga.


Jual Vespa di Kotagede

Jual Vespa Second di Kotagede

Jamu Tradisional Krapyak

Satu hal yang saya usahakan untuk tak terlewatkan kala berkunjung ke Yogya adalah menikmati jamu tradisional di Jalan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Penjual jamu ini menempati trotoar sebelah timur jalan, satu sisi dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir, sekitar 50 meter sebelum pondok pesantren bila kita dari arah utara (perempatan Gading).  


Penjual Jamu di Krapyak
Saya beli tiga jenis jamu di tempat ini. Jamu beras kencur (Rp. 3.500,- per porsi), jamu kunyit asam atau kunir asem  (Rp. 4.000,- per porsi), dan jamu sari temulawak  (Rp. 4.000,- per porsi). Jika kita minum di tempat, minumnya bukan memakai gelas namun memakai batok kelapa. 


Kembali Ke Jakarta

Minggu sore (25 Agustus 2013) saya telah tiba di Bandara Yogya, siap untuk kembali ke Jakarta menggunakan GA 215 yang seharusnya berangkat pukul 18.25. Untuk kesekian kalinya saya mengalami keterlambatan penerbangan dari Bandara Yogya ini, tak terkecuali dengan maskapi full service seperti Garuda ini. Atas keterlambatan ini Garuda memberikan kompensasi sebuah roti dan sebotol air mineral. Pesawat baru diberangkatkan sekitar pukul 19.30 dan saya menempati tempat duduk nomor  29 A.


Garuda Indonesia GA 215 siap tinggalkan Yogya

Boarding GA 215 leaving for Jakarta