Rabu, 25 September 2013

Jakarta - Singapura pp 14-15 September 2013


Berburu tiket promo Air Asia (AA)pada 19 September 2012 tengah malam hanya membuahkan tiket satu kali jalan Jakarta-Singapura seharga Rp. 115.000 untuk penerbangan 14 September 2013 dengan AA QZ 8266. Perjuangan mendapatkan tiket promo balik dari Singapura tak membuahkan hasil. Akhirnya beberapa pekan kedepan mencoba mencari alternatif penerbangan lain. Yang didapatkan kemudian, tepatnya 23 November 2012, adalah Lion Air seharga Rp. 515.300,- untuk penerbangan 15 September 2013 dengan JT 157. Urusan transprotasi selesai sudah.


AA QZ 8266 Siap Tinggalkan Jakarta Menuju Singapura


Boarding AA QZ 8266 14 September 2013 - Bandara Soetta


Hampir setahun kemudian, tiba saatnya merealisasikan hasil perburuan. Inilah kunjungan kedua saya sebagai backpacker (pelancong ransel) yang menginap di Singapore. Kunjungan pertamanya 12-14 April 2013. Ini sekaligus merupakan perjalanan ke Singapura yang pertama bagi saya dengan menggunakan AA. Pesawat berangkat tepat waktu pukul 14.05. Duduk di seat 11 A (window) memungkinkan saya merasa leluasa mengabadikan saat AA menyentuh landas pacu Bandara Changi.

AA 8266 landing position

AA 8266 mendekati Bandara Changi

AA 8266 di atas Bandara Changi

AA 8266 menyentuk landas pacu Bandara Changi


AA berhenti dengan sempurna


Kepergian kali ini benar-benar tak dibekali dengan refeshment informasi yang memadai mengenai tempat tujuan, utamanya keluar dari Bandara Changi. Yah, terlalu percaya diri setelah beberapa kali sowan ke negara singa ini. Tiba di Bandara Changi, begitu keluar dari pintu imigrasi, baru sadar bahwa sudah lupa mendarat di terminal mana dan stasiun MRT ada di sebelah mana. Beruntunglah papan petunjuk cukup jelas. Ingatan mulai terbangun kembali bahwa AA dan Lion Air ada di Terminal 1, sementara Stasiun MRT ada di Terminal 3 sehingga perlu naik Sky Train untuk menghubungkan keduanya.

Suasana Pintu Keluar Imigrasi Bandara Changi

Menanti Skytrain menuju Terminal 3 tempat Stasiun MRT

Begitu tiba di Stasiun MRT Changi, langsung top up Kartu EZ link sebesar SGD 10 (batas minimal pengisian). Dari stasiun ini saya turun di Stasiun Tanah Merah untuk beralih ke MRT jurusan Joo Koon. Tujuan pertama saya adalah penginapan. Kali ini saya menginap di Kallang River Backpackers (Jalan Ayer 8). Untuk singkatnya sebut saja penginapan ini Kallang. Saya telah memesan satu tempat tidur di 6 Bed Mixed Room dengan biaya semalam Rp. 112,428. Pemesanan saya lakukan 3 Juli 2013 melalui www.agoda.com. Lokasi penginapan ini ada di kawasan Geylang, di seberang Stasiun MRT Kallang.

Kallang di Jalan Ayer 8

Saat check in saya diminta deposit SGD 10 sebagai jaminan kunci locker yang nantinya akan dikembalikan saat check out. Sore itu saya istirahat sejenak melihat-lihat suasana penginapan. Duduk santai diteras, menatap pemandangan di depan berupa kereta MRT yang hilir mudik. Depan penginapan adalah tanah lapang sehingga lalu lintas MRT dapat terlihat dengan mudahnya.


Kallang: 6 Mixed Bed Room

Kamar Mandi Kallang, ada air panas

Penginapan menyediakan air minum (panas maupun dingin), teh celup, dan peralatan makan yang semuanya disediakan di teras. Sarapan juga tersedia gratis berupa roti selai. Secara umum, penginapan ini cukup layak untuk penginapan pelancong ransel individual. Harga dan fasilitas yang didapatkan cukup sebanding. Lokasinya benar-benar strategis di dekat Stasiun MRT Kallang.


Teras Kallang, menjadi semacam lobby
Setelah agak tenang beristirahat, malam itu sekitar pukul tujuh saya meluncur ke kawasan Bugis dengan menggunakan MRT. Ini merupakan kunjungan tak terencana, hanya sekedar mengisi waktu. Di kawasan Bugis saya juga hanya melihat-lihat sebentar suasana pusat perbelanjaan yang ada di situ. Cukup sekedar mengenali suasana dan mengingat-ingat tempatnya bagi saya sudah cukup karena saya tidak terlalu menikmati kegiatan belanja.

Imam Banana Leaf Restaurant - Lor 1 Geylang

Setiba kembali di penginapan, saya mampir makan malam. Kali ini pilihan jatuh pada Imam Banana Leaf Restauran yang lokasinya hanya berjarak selisih dua bangunan dari penginapan. Ini merupakan rumah makan India yang buka 24 jam, terletak di Lor 1 Geylang. Begitu dekatnya jarak dengan penginapan, maka menu yang telah tersaji dan kita bayar bisa kita bawa ke teras penginapan. Jadi untuk menikmati makannya kita tidak harus di dalam ruangan restoran yang bersangkutan. Malam itu saya menyantap nasi goreng seharga SGD 3,5.

Nasi Goreng SGD 3,5

Minggu (15 September 2013) pukul 06.30 saya meluncur ke Stasiun Kallang. Pagi itu tujuan saya adalah Garden by the Bay. Untuk ke tempat ini saya keluar dari Stasiun Bayfront. Sejenak saya mengamat-amati lobi hotel Marina Bay yang ada di seberang Garden by the Bay. 


Lobby Hotel Marina Bay
Lobby Hotel Marina Bay


Cuaca mendung pagi itu. Begitu saya hendak beranjak ke Garden by the Bay hujan deras mengguyur. Apa boleh buat, saya berteduh saja sambil sesekali mengambil gambar Garden by the Bay dari kejauhan.  

Garden by the Bay

Garden by the Bay

Garden by the Bay

Garden by the Bay
Garden by the Bay

Garden by the Bay
















Garden by the Bay
Hujan ternyata berlangsung tiada henti meski tak terlalu deras lagi. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Church Of Saints Peter and Paul yang hanya berjarak beberapa jengkal dari Stasiun Bras Basah. Berangkat dari Stasiun Byfront sekitar pukul delapan pagi dengan harapan bisa mengejar jadwal ibadah (misa) pukul 8.30. Sampai lokasi lima menit sebelum misa dimulai dalam kondisi gerimis. Saat akan mengambil lembar panduan baru sadar bahwa misa dalam bahasa Mandarin. Tak jadi soal, yang penting mengikuti ibadah meski tak bisa menangkap sama sekali maksudnya. 


Church Of Saints Peter and Paul
Church Of Saints Peter and Paul




Selesai ibadah, bergegas kembali ke penginapan Kallang, namun mampir sarapan terlebih dahulu. Kali ini pilihan jatuh di rumah makan Eating House yang terletak di Geylang Road pada ruas antara Lor 1 dan Lor 3. Ini semacam rumah makan Padang, seperti yang tertulis di papan namanya: “Authentic Nasi Padang – Best Mee Rebus in Singapore”. Dilihat dari beberapa tamu berjilbab, kelihatannya ini merupakan salah satu tempat makan makanan halal di kawasan Geylang. Beberapa orang yang habis berolah raga di Minggu pagi itu mampir menyantap mie rebus di tempat makan yang hanya buka pagi sampai siang hari ini. Menu sarapan yang saya pilih adalah nasi uduk seharga SGD 3. 


Eating House - Geylang Road

Nasi Uduk Eating House


Sarapan beres, kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak dan check out. Sambil menanti waktu check out, saya menyantap roti tawar selai yang merupakan paket sarapan yang disediakan oleh penginapan.

Masih banyak waktu untuk menanti penerbangan balik ke Jakarta yang dijadwalkan pukul 17.15. Saya pun meluncur ke Stasiun City Hall dengan harapan dari tempat ini akan berjalan-jalan menuju Merlion. Ternyata hujan deras kembali mengguyur Singapura di hari Minggu itu. Saya hanya bisa menikmati jalan di pusat perbelanjaan di sekitar stasiun. Setelah hujan agak reda, saya lihat bangunan gereja di dekat stasiun dan dari peta saya tahu itu Chatedral St. Andrew. Berlari-lari kecil saya menuju ke gereja ini. Saat masuk gereja dan mencoba melihat leaflet atau papan pengumuman jadwal ibadah, seorang ibu memberi tahu bahwa ini bukan gereja Katolik namun gereja Anglican.


Chatedral St. Andrew
Balik dari City Hall saya kembali ke kawasan Geylang dekat lokasi penginapan dan kembali turun di Stasiun Kallang. Tujuan saya adalah makan siang di kantin G5 Food House. Kantin ini terletak di kompleks parkiran apartemen di Sim Ave, namanya: Jalan Besar Town Council – Heart and Home. Ancar-ancarnya adalah halte bis Sim Ave B03. Letaknya di tepi rel MRT tak jauh dari Stasiun Kallang ke arah Stasiun Aljunied. Berbaur dengan pengunjung lain, di antaranya para sopir taxi, saya menyantap makan siang Pork Ribs Rice seharga SGD 3. Menu lain juga cukup bervariasi, baik halal maupun non-halal, dengan harga rata-rata SGD 4 per porsi. 


Balik dari City Hall saya kembali ke kawasan Geylang dekat lokasi penginapan dan kembali turun di Stasiun Kallang. Tujuan saya adalah makan siang di kantin G5 Food House. Kantin ini terletak di kompleks parkiran apartemen di Sim Ave, namanya: Jalan Besar Town Council – Heart and Home. Ancar-ancarnya adalah halte bis Sim Ave B03. Letaknya di tepi rel MRT tak jauh dari Stasiun Kallang ke arah Stasiun Aljunied. Berbaur dengan pengunjung lain, di antaranya para sopir taxi, saya menyantap makan siang Pork Ribs Rice seharga SGD 3. Menu lain juga cukup bervariasi, baik halal maupun non-halal, dengan harga rata-rata SGD 4 per porsi. 
G5 Food House - Sim Ave


Pork Ribs Rice

Akhirnya tibalah saat tuk kembali  ke Jakarta. Kali ini, Minggu (15 September 2013), Lion Air JT 157 menempatkan saya pada seat 9 A (jendela). Pesawat tinggal landas sepuluh menit terlambat dari jadwal seharusnya pukul 17.15. 


Lion Air JT 157 Singapura - Jakarta di Bandara Changi


Jumat, 30 Agustus 2013

Jakarta - Yogyakarta 24-25 Agustus 2013 : Mesjid Agung Mataram Kotagede


Boarding the aircraft AA QZ 7552
Seminggu setelah libur lebaran 2013, saya melakukan kunjungan singkat ke Yogyakarta ("Yogya"). Benar-benar luar biasa, sebuah perjalanan yang dirancang hampir setahun sebelumnya, tepatnya 17 September 2012 saat momen promo Air Asia ("AA"). Pada tanggal tersebut saya berhasil merebut satu tiket AA QZ 7552 di harga promo Rp. 58.900. Sayang, tiket balik ke Yogya tidak ada harga promo. Terpaksa cari tiket penerbangan lain yang akhirnya pada 24 Januari 2013 saya berhasil mendapatkan tiket Garuda Indonesia GA 0215 di harga promo Rp. 416.400 (sudah termasuk airport tax). Meski AA maupun GA sama-sama menyatakannya sebagai harga promo, nyata benar selisih harga antara keduanya, hampir tujuh kali lipat.

AA QZ 7552  siap tinggalkan Bandara Soetta
Meski libur lebaran telah berlalu, kepadatan di terminal 3 Bandara Soetta tetap saja terasakan. Saat itu ruang tunggu penuh dengan penumpang AA yang jadwal keberangkatannya berdekatan, yaitu ke Denpasar, Medan, dan Jakarta. Sejumlah penumpang bahkan tidak mendapatkan tempat duduk. 

Untuk keberangkatan ke Yogya kali ini saya mendapatkan tempat duduk nomor 20 F dengan jadwal keberangkatan pukul 10.30. Penumpang baru dipersilakan masuk pesawat pukul 10.30 dan tinggal landas pukul 11.10. Terjadi kelembatan sekitar empat puluh menit. 


Detik-detik Pendaratan di Yogya

Menjelang pendaratan di Yogya, dari kabin pesawat saya sempat mengabadikan beberapa spot seperti Stadion Mandala Krida dan jalan layang Janti. 

AA QZ 7552 melintas Stadion Mandala Krida Yogya 



Menatap Stadion Mandala Krida dari dalam kabin AA QZ 7552
AA QZ 7552 melintas Jalan Layang Janti Yogya
AA 7552 hampir menyentuh landasan Bandara Adisucipto


AA QZ 7552 touch down Adisucipto Airport
Sekitar pukul 12.10 pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Adicucipto Yogya.

Air Asia QZ 7552 tiba di Yogya

Air Asia QZ 7552 has just landed at Yogya
Kotagede dan sekitarnya

Kunjungan singkat kali ini saya fokuskan ke Kotagede, lebih khusus lagi ke Masjid Agung Mataram Kotagede ("Masjid Kotagede"). Perlu waktu ternyata untuk kunjungan pertama kali ke masjid yang berlokasi di Jalan Watu Gilang ini. Sesuai informasi yang saya peroleh, yang pertama harus saya temukan adalah Pasar Legi Kotagede. Ternyata sekian tahun yang lalu beberapa kali saya melewati pasar ini, hanya saja tidak terlalu memperhatikan. Pasar Legi ini rupanya terletak di Jalan Mondorakan. Untuk menuju ke sini kita bisa masuk dari Jalan Kemasan atau Jalan Pramuka. Masjid Kotagede terletak di sisi barat Pasar Legi ke arah selatan sekitar 500 meter. Waktu yang tepat dan nyaman untuk berkunjung sebaiknya setelah siang hari karena pada pagi hari jalan di depan pasar macet dan tempat parkir sekitar Pasar Legi penuh dengan kendaraan. Secara pribadi saya tidak menyarankan untuk membawa mobil jika akan berkunjung ke Masjid Kotagede mengingat sempitnya jalan. Kalaupun membawa mobil, silakan parkir di deretan toko kerajinan perak yang agak jauh dari Pasar Legi. Bagi yang menguasai wilayah Yogya, sepertinya ada akses yang tidak harus melewati Pasar Legi. 


Masjid Agung Mataram Kotagede



Kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede 
Kompleks Masjid Agung Mataram Kotagede
Ada dua pintu masuk menuju kompleks Masjid Kotagede, yaitu dari sisi timur (yaitu pada jalan searah dengan sisi barat Pasar Legi, tidak jauh dari tempat produksi Coklat Monggo yang cukup tenar di Yogya) atau sisi utara. Jika kita naik motor, masuk saja dari sisi utara. Kita akan menyusuri sebuah gang kecil yang di kiri kanannya masih terdapat rumah-rumah kuno, termasuk joglo dan oemah UGM. Motor bisa kita parkir di halaman Masjid Kotagede, sementara kita bisa berjalan-jalan menyaksikan rumah-rumah kuno atau mengitari kompleks masjid.

Kawasan Kota tua Kotagede

Eksotisnya peninggala rumamh kuno di Kotagede
Toko Motor Vespa Second Kotagede

Dalam perjalanan di Kotagede, tak sengaja saya menemukan sebuah toko motor second yang khusus menjual kendaraan merek Vespa. Lokasinya tidak jauh Masjid Kotagede dan makam Hastarengga.


Jual Vespa di Kotagede

Jual Vespa Second di Kotagede

Jamu Tradisional Krapyak

Satu hal yang saya usahakan untuk tak terlewatkan kala berkunjung ke Yogya adalah menikmati jamu tradisional di Jalan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Penjual jamu ini menempati trotoar sebelah timur jalan, satu sisi dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir, sekitar 50 meter sebelum pondok pesantren bila kita dari arah utara (perempatan Gading).  


Penjual Jamu di Krapyak
Saya beli tiga jenis jamu di tempat ini. Jamu beras kencur (Rp. 3.500,- per porsi), jamu kunyit asam atau kunir asem  (Rp. 4.000,- per porsi), dan jamu sari temulawak  (Rp. 4.000,- per porsi). Jika kita minum di tempat, minumnya bukan memakai gelas namun memakai batok kelapa. 


Kembali Ke Jakarta

Minggu sore (25 Agustus 2013) saya telah tiba di Bandara Yogya, siap untuk kembali ke Jakarta menggunakan GA 215 yang seharusnya berangkat pukul 18.25. Untuk kesekian kalinya saya mengalami keterlambatan penerbangan dari Bandara Yogya ini, tak terkecuali dengan maskapi full service seperti Garuda ini. Atas keterlambatan ini Garuda memberikan kompensasi sebuah roti dan sebotol air mineral. Pesawat baru diberangkatkan sekitar pukul 19.30 dan saya menempati tempat duduk nomor  29 A.


Garuda Indonesia GA 215 siap tinggalkan Yogya

Boarding GA 215 leaving for Jakarta

Kamis, 20 Juni 2013

Jakarta - Kuala Lumpur - Perth with Air Asia Fly Thru 6 - 9 June 2013



AA QZ 8196 siap tinggalkan Jkt

“Ini adalah perjalanan kedua dari Jakarta ke Perth melalui Kuala Lumpur (“KL”); mestinya saya lebih percaya diri!” gumam saya menjelang berangkat ke Bandara Soetta. Ya, semua tempat-tempat penting yang harus saya lewati selama perjalanan sudah saya “capture”  pada perjalanan pertama Agustus 2012 yang lalu. Mulai dari imigrasi, check in bagasi, transit, ruang tunggu bandara, pergantian pesawat, dan sejenisnya sudah saya identifikasi dan besar kemungkinan belum berubah prosedur maupun lokasinya.  “Medan yang akan saya lalui sama; ini hanya pengulangan, tak ada yang perlu dikhawatirkan” bisik saya dalam hati. 

 Memang keyakinan saya benar-benar terbukti. Jika dalam perjalanan pertama ada sejumlah kekhawatiran yang menggelayut selama perjalanan, maka kali ini saya serasa melenggang ringan selama perjalanan Jakarta ke Perth. Beberapa kekhawatiran yang dulu menyelimuti benak saya antara lain: barang-barang yang boleh dibawa ke kabin, pengurusan bagasi saat beralih penerbangan, prosedur pindah penerbangan di KL, dan urusan dengan imigrasi. Untuk semua kekhawatiran itu saya sudah tahu jawaban atau penjelasannya.


Begitu tenangnya, saya sampai benar-benar menikmati waktu tunggu di Blue Sky Longue Terminal 3 Bandara Soetta. Hampir semua menu saya cicipi. Maklum, back packer tak memesan makanan dalam penerbangan. Jadi, bikin kenyang selagi di bandara menjelang keberangkatan.


Ringkasan Penerbangan

AA D 7236 siap tinggalkan Kuala Lumpur
Kali ini perjalanan Jakarta ke Perth pulang pergi menggunakan Air Asia (“AA”) dengan tiket seharga Rp. 3.456.000,- yang saya beli pada 19 September 2012 dengan kode booking C5BQ4C. Belakangan saya menambah bagasi maksimum 15 kg seharga Rp. 105.000,- (Jakarta – KL) dan Rp. 165.000, (KL-Perth).


Berangkat 6 Juni 2013 dengan AA QZ 8196 pemberangkatan pukul 18.35 menempati seat 18E transit KL. Dari KL menggunakan AA D 7236 pada 7 Juni 2013 pukul 00.05 menempati seat 23J. Balik dari Perth ke KL 9 Juni 2013 dengan AA D 7237 pemberangkatan pukul 06.50 menempati seat 37G, disambung dengan AA QZ 8193 pada tanggal yang sama untuk penerbangan KL – Jakarta, pemberangkatan pukul 14.55 dengan menempati seat 18E.


Fly Thru - Penerbangan Lanjutan Transit di KL (Bagasi otomatis berpindah)
Poster Petunjuk Transfer Flight LCCT KL

Ada beberapa pertanyaan yang sering diajukan dalam milis jalan-jalan. Kalau saya hendak ke luar negeri transit di KL dengan penerbangan yang sama, apakah harus keluar bersama penumpang lain tujuan KL, atau tinggal pindah ruang tunggu? Bagaimana dengan bagasi saya?  

Jawaban atas pertanyaan tersebut di atas tergantung dari jenis pembelian tiket: terpisah (dua kode booking) atau lanjutan (satu kode booking). Jika tiketnya terpisah, maka itu sama saja kita melakukan dua penerbangan yang terpisah. Konsekuensinya begitu tiba di KL kita harus menyelesaikan semua urusan (mengeluarkan bagasi dan keluar imigrasi) untuk penerbangan pertama, kemudian masuk lagi untuk penerbangan kedua mulai dari awal (check-in lagi). Risikonya, bila penerbangan pertama terlambat dan kita tidak berhasil mengejar penerbangan berikutnya, itu merupakan tanggung jawab sepenuhnya penumpang.


Label Bagasi Otomatis Berpindah
Penerbangan saya adalah jenis kedua (satu kode booking untuk dua sektor penerbangan terpisah) yang dalam AA disebut dengan fly-thru. Waktu check-in di Bandara Soetta, bagasi saya diberikan dua label (seperti foto terlampir). Label pertama bertuliskan dua kode kota yang akan disinggahi oleh bagasi. Label kedua bertuliskan “Air Asia Flight Transfer”. Ini artinya saat tiba di KL kita tidak perlu mengurusi bagasi lagi. Petugas bandara KL akan memindahkan bagasi ini ke penerbangan sektor berikutnya. 
 
Saat tiba di KL, tepatnya di pintu masuk terminal akan ada petunjuk naik escalator (pintu keluar imigrasi) atau ke samping belok kiri (transfer). Kita ambil yang ke kiri. Kalaupun  terlanjur ke lantai dua karena mengikuti penumpang lain yang penerbangannya berakhir di KL tak perlu khawatir. Di lantai dua depan eskalator ada poster (foto terlampir) yang mempersilakan kita untuk kembali turun.


Di counter transit kita akan registrasi lagi; tunjukkan paspor dan tiket penerbangan lanjutan. Barang bawaan di kabin akan melewati sensor lagi. Baru kemudian kita diarahkan ke ruang tunggu berikutnya, dalam kasus saya di pintu 14 LCCT KL.











Ruang Tunggu pintu 14 LCCT KL


Ruang Tunggu 13-14 Bandara KL
Penerbangan KL – Perth dilayani oleh AA X dengan menggunakan pesawat berlambung besar jenis Airbus 330. Rupanya jumlah tempat duduk di ruang tunggu tak sebanding dengan kapasitas pesawat. Akibatnya mendekati boarding terdapat sejumlah penumpang yang tak dapat duduk di ruang tunggu. Beberapa bertahan berdiri, sebagian lagi duduk lesehan di lantai.




Kapasitas Tempat Duduk Ruang Tunggu Tak Memadai

Transport Bis Bandara ke Perth

Tiba di Perth 30 menit lebih awal, jadi saya bisa agak santai karena memang tak ada agenda di hari itu. Kali ini saya mencoba pengalaman baru masuk ke City of Perth dengan transportasi publik. Dari bandara internasional tidak ada layanan bis ke arah kota, adanya di terminal domestik. Dari bandara internasional saya menggunakan fasilitas gratis berupa bis Connet ke terminal domestik. Barulah dari terminal domestik saya naik bis Transperth Route 37 (Perth Domestic Airport - Kings Park). Kalau tidak salah tarifnya mendekati AUD 4 (dihitung dua zona).

Halte Bis Menuju Terminal Domestik

Cottesloe lagi

Area Berselancar Cottesloe Beach
8 Juni 2013 saya meniatkan diri untuk berlama-lama menikmati suasana pantai Cottesloe sampai puas menyaksikan sunset. Menuju ke Cottesloe saya menggunakan bis Transperth Route 102 (western Timetable 31) dari Esplenade Station. Begitu praktisnya ketimbang naik kereta karena dengan bis bisa turun di halte persis depan area pantai. Bila menggunakan kereta, dari Stasiun Cottesloe harus jalan kaki agak jauh melewati Forrest Street seperti kunjungan saya sebelumnya. 


Cottesloe di Siang Hari
Dudul Santai Menikmati Cottesloe Beach




Sunset Mentari di Cottesloe

Sunset di Cottesloe Beach

Sunset di Cottesloe Beach

Petang Hari di Cottesloe Beach


Gerbang Utama Cottesloe Beach







Minggu, 02 Juni 2013

Kunjungan Singkat Yogya Mei-Juni 2013


Ini dokumentasi perjalanan singkat saya ke Yogyakarta “(Yogya”) dua kali berturut-turut hanya dalam sepekan. Diawali dengan perjalanan Jakarta-Cirebon 23 Mei 2013 dengan Cirebon Ekspress dengan harga tiket Rp. 150.000,-. Kereta berangkat pukul 09.50 menempati seat 3D. Sampai Cirebon langsung ke tempat penginapan, yaitu Hotel Santika yang letaknya tak seberapa jauh dengan Stasiun Cirebon. Awalnya saya akan menginap dua hari di sini dan balik ke Jakarta 25 Mei 2013. Rupanya Jumat siang (24 Mei 2013) urusan sudah kelar.  Muncullah ide kilat untuk melanjutkan perjalanan ke Yogya sebelum balik Jakarta, memanfaatkan waktu tersisa.

Suasana di Kereta GBM

Pergulatan ide menuju realisasi dimulai dengan mencari informasi kereta ke Yogya. Paska 13.00 sudah tak ada lagi kereta eksekutif ke  arah Yogya. Sekitar jam tujuh malam baru akan ada kereta ekonomi AC kalau tak salah. Alhasil, coba peruntungan untuk cari informasi langsung ke Stasiun Cirebon dengan ambil risiko balik Jakarta kalau tak juga dapat tiket ke Yogya. Rupanya ada pilihan yaitu kereta ekonomi AC yang berangkat pukul 15.05, namun tidak berhenti alias berangkat dari Stasiun Cirebon.




Nikmatnya Bersantap di Kereta GBM

Pilihan pun saya ambil, yaitu naik kereta Gaya Baru Malam (“GBM”), berangkat dari Stasiun Prujakan 24 Mei 2013 pemberangkatan 15.05. Ini adalah kereta tujuan Surabaya dan di Yogya berhenti di Stasiun Lempuyangan. Dari Stasiun Cirebon, setelah mengurus pengembalian tiket balik Jakarta yang sudah telanjur terbeli, saya melesat ke Stasiun Prujakan naik ojek dengan ongkos Rp. 10.000,-.




Sambil menanti kereta datang, saya buka notebook untuk membeli tiket Yogya-Jakarta. Sebelum check out dari Hotel Santika, saya sebenarnya sudah cari-cari alternatif dan menemukan harga terbaik, yaitu Mandala namun belum saya eksekusi. Setelah dapat kepastian ke Yogya, tibalah saat untuk mengeksekusinya. Saya beli tiket Mandala RI 345 untuk pemberangkatan Sabtu (25 Mei 2013) pukul 18.00 dengan harga Rp. 334.900,-.

Setelah menanti sekitar satu jam, saya pun terangkut dengan kereta ekonomi AC ini pada seat 16A. Inilah pengalaman pertama saya naik kereta dari Stasiun Prujakan dan pengalaman kedua saya naik kereta GBM. Pengalaman pertamanya sekitar empat tahun lalu naik dari Stasiun Jakarta Kota dan saat itu merupakan kereta ekonomi tanpa AC. Kereta pun sampai Yogya meleset setengah jam dari jadwal.

Mandala RI 345 siap meninggalkan Yogya
Sabtu (25 Mei 2013) saya sudah siap di Bandara Adisucipto pukul 16.45. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya naik Mandala versi baru setelah mengalami penutupan operasi. Cuaca ternyata buruk. Beberapa penerbangan tertunda, termasuk Mandala yang saya nantikan. Akhirnya Mandala  RI 345 pun tinggal landas pukul 20.00. Penumpang tidak begitu banyak, kira-kira setengah kapasitas saja. Saya menempati seat 23F. Sebuah penerbangan yang mengerikan untuk saya, karena hampir tiga perempat perjalanan saya lalui dengan guncangan-guncangan hebat. Pramugari pun membatalkan penyajian menu karena terpaksa harus lebih banyak duduk di tempat dalam kondisi cuaca buruk itu.


Mandala RI 345 tiba di Bandara Soetta Yogya
Tora Sudiro di Ruang Tunggu Terminal 3 Bandara Soetta
Sepekan kemudian, tepatnya Sabtu (1 Juni 2013) saya kembali ke Yogya. Kali ini menggunakan  Air Asia QZ 7552 yang saya beli tanggal 19 Maret 2013 di harga promo Rp. 239.000,-. Cuaca cerah saat pesawat tinggal landas tepat waktu pukul 10.30. Saya menempati seat  21F, satu pesawat dengan selebriti Tora Sudiro yang duduk di seat 31F alias pojok paling belakang.



AA QZ 7552 siap meninggalkan Jakarta

















AA QZ 7552 siap landing Yogya

AA QZ 7552 siap landing Yogya
AA QZ 7552 tiba di Yogya

Warung Handayani 

Tiba di Yogya langsung melesat ke tempat makan siang. Kali ini pilihan jatuh di Warung Handayani di alun-alun kidul. Menunya adalah nasi brongkos telur (Rp. 8.000) dan es campur (Rp. 4.000,-). Bagi yang tidaak suka brongkos, si warung ini tersedia juga nasi soto ayam dan nasi pecel dengan harga relatif sama.






Waktu saya di Yogya sangat singkat, hanya beberapa jam karena petangnya saya balik Jakarta lagi. Mengapa begitu cepat? Ya, karena saya mencari tiket murah dan untuk hari Minggu harga tiket tak ada yang murah. Perjuangan mencari tiket promo memang hanya membuahkan tiket satu arah ke Yogya. Sempat terpikir untuk membiarkan tiket ini hangus bila tak juga menemukan tiket murah untuk balik Jakarta.

Citilink QG 9322 mengudara di atas Yogya
Setelah monitor terus menerus baik tiket kereta mapun pesawat, ternyata Citilink pada 30 Mei 2013 me-release harga terendah (setahu saya), yaitu Rp. 296.500. Secepat kilat tiket itu saya sambar, keburu lenyap diambil orang lain. Yah, akhirnya pada pukul 15.  Tiket Citilink QG 9322 untuk penerbangan 1 Juni 2013 ada dalam genggaman saya.

Jika seminggu sebelumnya saya merasakan pertama kali menggunakan mandala paska reborn, kali ini pun saya mengalami hal yang sama, naik Citilink paska reborn. Terakhir menggunakan Citilink mungkin sudah lebih dari satu dasawarsa yang lalu, saat warna pesawatnya masih didominasi warna putih polos tanpa logo. Baik Mandala maupun Citilink, keduanya sama-sama mengambil jatah jalurnya Batavia Air yang mengalami penutupan. Citilink berangkat tepat waktu pukul 18.05 dan saya menempati seat 7a.


Citilink QG 9322 siap meninggalkan Yogya

Itulah sekelumit catatan perjalanan singkat saya. Perjalanan berikut (Jakarta-Kuala Lumpur-Perth), lima hari ke depan, telah menunggu di depan mata. Jika perjalanan ke dapan ini tereksekusi, maka hanya dalam waktu hanya dua minggu saya menjalani tiga penerbangan pulang pergi. Tentu saja ini akan menjadi rekor untuk saya.